Jumat, 06 Mei 2022

Asesmen Formatif & Sumatif


Definisi Asesmen Formatif

Metode evaluasi yang dilakukan untuk evaluasi proses pemahaman murid, kebutuhan pembelajaran, dan kemajuan akademik selama pembelajaran.

formatif memantau pembelajaran murid dan memberikan umpan balik yang berkala, dan berkelanjutan.

Bagi murid, asesmen formatif berfungsi membantu murid mengidentifikasi kekuatan dan aspek yang perlu dikembangkan.

Bagi guru dan sekolah, asesmen formatif berfungsi memberikan informasi mengenai tantangan apa saja yang dihadapi murid dalam proses pembelajaran projek sehingga dukungan yang memadai dapat diberikan.

Asesmen formatif dapat diberikan oleh guru, teman, atau diri sendiri.

Definisi Asesmen Sumatif

Metode evaluasi yang dilakukan di akhir pembelajaran.

Asesmen sumatif seringkali memiliki taruhan tinggi karena berpengaruh terhadap nilai akhir murid, jadisering diprioritaskan murid daripada asesmen formatif.

Umpan balik dari asesmen hasil akhir ini (sumatif) dapat digunakan untuk mengukur perkembangan murid untuk memandu guru dan sekolah merancang aktivitas mereka untuk projek berikutnya.

Untuk saat ini, assessment of learning yang paling banyak dilakukan oleh guru. Harapannya dengan kurikulum baru akan lebih banyak mengutamakan assessment as learning dan for learning.

Penekanan pada Asesmen Formatif

Dengan penerapan kurikulum ini, guru diharapkan dapat memberikan proporsi lebih banyak pada pelaksanaan asesmen formatif daripada menitikberatkan orientasi pada asesmen sumatif.

Untuk saat ini, assessment of learning yang paling banyak dilakukan oleh guru. Harapannya dengan kurikulum baru akan lebih banyak mengutamakan assessment as learning dan for learning.

Harapannya, kurikulum ini akan mendukung proses penanaman kesadaran bahwa proses lebih penting daripada sebatas hasil akhir.

Membangun Keseimbangan Asesmen Formatif dan Sumatif

Jumlah asesmen formatif sebaiknya lebih banyak dari jumlah asesmen sumatif.

Jelaskan tujuan asesmen formatif adalah untuk perbaikan dan pengembangan diri. Asesmen formatif dapat membantu mereka mendapatkan nilai yang lebih baik dalam asesmen sumatif di akhir, juga untuk mengoptimalkan kegiatan pembelajaran.

Bangun keterkaitan antara asesmen sumatif dan formatif. Dengan merancang asesmen formatif yang berkontribusi pada tugas sumatif dapat menurunkan beban kerja murid dan memperjelas relevansi tugas formatif.

Mengapa Keseimbangan Asesmen Formatif dan Sumatif penting?

Mengubah paradigma belajar yang menitikberatkan pada nilai menjadi belajar yang menitikberatkan pada proses.

Jika ketergantungan pada asesmen sumatif masih terjadi dengan umpan balik yang sedikit, maka dapat menghambat proses murid untuk “mengalami pengetahuan”.

Bentuk asesmen formatif maupun sumatif ada dua, yaitu:

Bentuk Tidak Tertulis, contohnya:

  • Diskusi kelas
  • Drama
  • Produk
  • Presentasi
  • Tes Lisan

Bentuk Tertulis, contohnya:

  • Refleksi
  • Esai
  • Jurnal
  • Poster
  • Tes Tertulis



Lebih jelas bisa melihat video berikut ini


Konsep dan komponen modul ajar

Konsep Modul Ajar

Modul ajar merupakan salah satu jenis perangkat ajar.

Satuan pendidikan yang menggunakan modul ajar yang disediakan pemerintah, maka modul ajar tersebut dapat dipadankan dengan RPP Plus, karena modul ajar tersebut memiliki komponen yang lebih lengkap dibanding RPP.

Jika satuan pendidikan mengembangkan modul ajar secara mandiri, maka modul ajar tersebut dapat dipadankan dengan RPP.

Satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai perangkat ajar termasuk modul ajar atau RPP dengan kelengkapan komponen dan format yang beragam sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

Tujuan pengembangan modul ajar

Mengembangkan perangkat ajar yang memandu pendidik melaksanakan pembelajaran.

Pendidik memiliki kemerdekaan untuk:

memilih atau memodifikasi modul ajar yang sudah disediakan pemerintah untuk menyesuaikan modul ajar dengan karakteristik peserta didik, atau

menyusun sendiri modul ajar sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Kriteria yang harus dimiliki modul ajar adalah:

Esensial: Pemahaman konsep dari setiap mata pelajaran melalui pengalaman belajar dan lintas disiplin.

Menarik, bermakna dan menantang: Menumbuhkan minat untuk belajar dan melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar. Berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya sehingga tidak terlalu kompleks, namun juga tidak terlalu mudah untuk tahap usianya.

Relevan dan kontekstual: Berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, dan sesuai dengan konteks waktu dan tempat peserta didik berada.

Berkesinambungan: Keterkaitan alur kegiatan pembelajaran sesuai dengan fase belajar peserta didik.

Komponen Modul Ajar

Komponen modul ajar adalah dasar dalam penyusunan modul ajar dan untuk kelengkapan persiapan pembelajaran.

Komponen modul ajar bisa ditambahkan sesuai dengan mata pelajaran dan kebutuhannya.

Tidak semua komponen berikut dengan konteks waktu dan tempat peserta didik berada.

Berkesinambungan: Keterkaitan alur kegiatan pembelajaran sesuai dengan fase belajar peserta didik.

Komponen Modul Ajar

Komponen modul ajar adalah dasar dalam penyusunan modul ajar dan untuk kelengkapan persiapan pembelajaran.

Komponen modul ajar bisa ditambahkan sesuai dengan mata pelajaran dan kebutuhannya.

Tidak semua komponen berikut wajib tercantum dalam modul ajar yang dikembangkan oleh pendidik.

Pendidik di satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan komponen dalam modul ajar sesuai dengan konteks lingkungan dan kebutuhan belajar peserta didik.

Komponen modul ajar terdiri dari tiga bagian besar:

1. Informasi Umum

Identitas Modul

Informasi tentang modul ajar yang terdiri dari:

Nama penyusun, institusi, dan tahun disusunnya modul ajar

Jenjang sekolah (SD/SMP/SMA)

Kelas

Alokasi waktu (penentuanya sesuai dengan jam pelajaran yang berlaku di unit kerja masing-masing)

Kompetensi Awal

Kompetensi awal adalah pengetahuan dan/atau keterampilan yang perlu dimiliki siswa sebelum mempelajari topik tertentu.

Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila adalah tujuan akhir dari suatu kegiatan pembelajaran yang berkaitan erat dengan pembentukan karakter peserta didik.

Profil Pelajar Pancasila dapat tercermin dalam konten dan/atau metode pembelajaran.

Dalam modul pembelajaran, Profil Pelajar Pancasila tidak perlu dicantumkan seluruhnya, tapi dapat dipilih Profil Pelajar Pancasila yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran.

Enam dimensi Profil Pelajar Pancasila saling berkaitan dan terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran. Hal ini terlihat dengan jelas di dalam:

  1. materi/isi pelajaran
  2. pedagogi dan/atau
  3. kegiatan projek
  4. asesmen

Setiap modul ajarmencakup satu atau beberapa unsur dimensi Profil Pelajar Pancasila yang telah ditetapkan.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana adalah fasilitas dan bahan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Sarana artinya alat dan bahan yang digunakan. Prasarana adalah materi dan sumber bahan ajar lain yang relevan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Ketersediaan materi sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, baik dengan keterbatasan atau kelebihan.

Teknologi juga termasuk sarana dan prasarana yang perlu dimanfaatkan untuk pembelajaran yang lebih dalam dan bermakna.

Target Peserta Didik

Tiga kelompok target peserta didik adalah:

Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar.

Peserta didik dengan kesulitan belajar seperti gaya belajar yang terbatas hanya satu gaya(misalnya dengan audio), kesulitan dengan bahasa dan pemahaman materi ajar, kurang percaya diri, kesulitan berkonsentrasi jangka panjang, dsb.

Peserta didik dengan pencapaian tinggi: mencerna dan memahami dengan cepat, mampu mencapai keterampilan berfikir aras tinggi (HOTS), dan mampu memimpin.

Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah model atau kerangka pembelajaran yang memberikan gambaran sistematis pelaksanaan pembelajaran.

Modelnya pun beragam, mulai dari model pembelajaran tatap muka, pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (PJJ Daring), pembelajaran jarak jauh luar jaringan (PJJ Luring), dan blended learning.

2. Komponen Inti

Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran harus mencerminkan hal-hal penting dari pembelajaran dan harus bisa diuji dengan berbagai bentuk asesmen sebagai bentuk dari unjuk pemahaman.

Selain itu, tujuan pembelajaran akan menentukan kegiatan belajar, sumber daya yang digunakan, kesesuaian dengan keberagaman murid, dan metode asesmen yang digunakan.

Tujuan pembelajaran pun bisa berbagai bentuk, mulai dari pengetahuan (fakta dan informasi), prosedural, pemahaman konseptual, pemikiran dan penalaran keterampilan, dan kolaboratif dan strategi komunikasi.

Pemahaman Bermakna

Pemahaman bermakna adalah informasi tentang manfaat yang akan didapatkan peserta didik setelah proses pembelajaran. Manfaat tersebut nantinya dapat diterapkan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh kalimat pemahaman bermakna: Manusia berorganisasi untuk memecahkan masalah dan mencapai suatu tujuan.

Pertanyaan Pemantik

Pertanyaan pemantik bertujuan untuk memandu siswa mendapatkan pemahaman bermakna sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Pertanyaan ini dibuat oleh guru untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis dalam diri peserta didik.

Misalnya, pada pembelajaran menulis cerpen, guru dapat mengajukan pertanyaan pemantik sebagai berikut:

Apa yang membuat sebuah cerpen menarik untuk dibaca?

Jika kamu diminta untuk membuat akhir cerita yang berbeda, apa yang akan kamu usulkan?

Kegiatan Pembelajaran

Urutan kegiatan pembelajaran inti dalam bentuk langkah-langkah konkret, yang disertakan opsi/pembelajaran alternatif dan langkah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa.

Langkah kegiatan pembelajaran ditulis secara berurutan sesuai dengan durasi waktu yang direncanakan, dalam tiga tahap, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup berbasis metode pembelajaran aktif.

Asesmen

Asesmen digunakan untuk mengukur capaian pembelajaran di akhir kegiatan.

Kriteria pencapaian harus ditentukan dengan jelas sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Ada 3 jenis asesmen:

Asesmen sebelum pembelajaran (diagnostik)

Asesmen selama proses pembelajaran (formatif)

Asesmen pada akhir proses pembelajaran (sumatif) -entuk asesmen yang bisa dilakukan:

Sikap (Profil Pelajar Pancasila) dapat berupa: observasi, penilaian diri, penilaian teman sebaya, dan anekdotal.

Performa (presentasi, drama, pameran hasil karya, jurnal, dsb.)

Tertulis (tes objektif: essay, pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah).

Pengayaan dan Remedial

Pengayaan adalah kegiatan pembelajaran yang diberikan pada peserta didik dengan capaian tinggi supaya mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

Saat merancang kegiatan pengayaan, Anda perlu memperhatikan diferensiasi, contohnya lembar belajar/kegiatan yang berbeda dengan kelas.

Remedial diberikan kepada peserta didik yang membutuhkan bimbingan untuk memahami materi atau pembelajaran mengulang.

3. Lampiran

Lembar Kerja Peserta Didik

Lembar kerja siswa ini ditujukan untuk peserta didik (bukan guru) dan dapat diperbanyak sesuai kebutuhan untuk diberikan kepada peserta didik, termasuk peserta didik nonreguler.

Bahan Bacaan Guru & Peserta Didik

Bahan bacaan guru dan peserta didik bisa digunakan sebagai pemantik sebelum kegiatan dimulai atau untuk memperdalam pemahaman materi pada saat atau akhir kegiatan pembelajaran.

Glosarium

Glosarium adalah kumpulan istilah-istilah dalam suatu bidang secara alfabetikal lengkap dengan definisi dan artinya. Biasanya glosarium diperlukan untuk kata atau istilah yang memerlukan penjelasan lebih mendalam.

Daftar Pustaka

Daftar pustaka adalah sumber-sumber referensi yang digunakan dalam pengembangan modul ajar.

Referensi yang dimaksud adalah semua sumber belajar (buku siswa, buku referensi, majalah, koran, situs internet, lingkungan sekitar, narasumber, dsb.)

Kamis, 05 Mei 2022

Pengertian capaian pembelajaran

Capaian pembelajaran dikenal juga dengan istilah learning achievement, achievement standard atau learning outcomes. Secara sederhana, capaian pembelajaran bisa didefinisikan sebagai kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap tahap perkembangan peserta didik untuk setiap mata pelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah.

Capaian pembelajaran memuat sekumpulan kompetensi dan lingkup materi yang disusun secara komprehensif dalam bentuk narasi.

Model alternatif ini berfokus pada apa yang diharapkan dari siswa yang harus dilakukan di akhir modul atau program. Oleh karena itu, pendekatan ini biasa disebut sebagai pendekatan berbasis hasil.

Capaian pembelajaran terdiri dari 6 fase (A-F) atau tahapan yang meliputi seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah (SD, SMP, SMA), sedangkan untuk SLB capaian pembelajaran didasarkan pada usía mental yang ditetapkan berdasarkan hasil asesmen.

Khusus untuk PAUD, istilah capaian pembelajaran mengacu kepada capaian perkembangan bukan capaian pembelajaran. Mengingat pembelajaran di PAUD berbasis pada enam aspek perkembangan kognitif, sosial emosi, bahasa, fisik dan motorik serta seni. Aspek-aspek inilah yang menjadi satu kesatuan dalam pembelajaran.



Penerapan Profil Pelajar Pancasila di Sekolah Penggerak

Profil Pelajar Pancasila adalah karakter dan keseharian yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri individu setiap pelajar melalui: budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.


1. Budaya Sekolah

Sebagai bagian dari budaya sekolah, dimensi dan elemen dimensi diintegrasikan ke dalam iklim sekolah, kebijakan, pola interaksi dan komunikasi, serta norma yang berlaku di sekolah.


2. Pembelajaran Intrakurikuler

Sebagai bagian dari intrakurikuler, dimensi ataupun elemen dimensi diintegrasikan dalam capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan atau materi/topik pembelajaran.


3. Projek Profil Pelajar Pancasila

Sebagai bagian dari projek, dimensi dan elemen dimensi Profil Pelajar Pancasila diintegrasikan dalam projek yang diberikan. 

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Latar Belakang Profil Pelajar Pancasila

Pelajaran berbasis projek belum menjadi kebiasaan di sekolah-sekolah di Indonesia, sehingga perlu dukungan kebijakan pusat

Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah terjemahan dari pengurangan beban belajar di kelas (intrakurikuler)

Alokasi waktu untuk satu mata pelajaran terbagi menjadi dua, intrakurikuler dan kokurikuler (projek penguatan Profil Pelajar Pancasila) agar beban ajar guru tidak berkurang. Jadi, Projek Profil Pelajar Pancasila adalah unit pembelajaran terintegrasi, bukan tematik.

Persiapan penerapan Profil Pelajar Pancasila

Guru

  • Mengatur pengelolaan jam pelajaran dan kolaborasi
  • Mengatur alokasi jam mengajar agar tetap sama
  • Menyiapkan sistem dari perencanaan hingga penilaian
  • Menyiapkan sistem pendokumentasian projek untuk dapat digunakan sebagai portofolio
  • Berkolaborasi dengan narasumber pengaya projek: masyarakat, komunitas, universitas, dan praktisi

Kemendikbud

Menentukan tema untuk setiap projek yang diimplementasi setiap satuan pendidikan

Pemerintah Daerah dan Satuan Pendidikan

  • Merancang muatan lokal berupa projek berdasarkan tema yang ditetapkan
  • Mengembangkan menjadi topik yang lebih spesifik dan kontekstual di satuan pendidikan


4. Ekstrakurikuler

Sebagai bagian dari ekstrakurikuler, dimensi dan elemen dimensi Profil Pelajar Pancasila diintegrasikan dalam kegiatan yang mengembangkan minat dan bakat.


Struktur Kurikulum Merdeka

Pembaharuan pembelajaran bertujuan untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran yang sudah dimulai pada kurikulum-kurikulum sebelumnya.

Karena itu, pembelajaran paradigma baru pun disertai dengan penyesuaian kurikulum ke Kurikulum Merdeka. Struktur kurikulum ini didasari tiga hal yaitu berbasis kompetensi, pembelajaran yang fleksibel dan karakter Pancasila.

Selain itu, struktur kurikulum berbasis konteks satuan pendidikan pun kembali dikuatkan.

Beberapa prinsip dalam pengembangan struktur Kurikulum Merdeka:

Struktur Minimum

Struktur kurikulum minimum ditetapkan tapi satuan pendidikan bisa mengembangkan program dan kegiatan tambahan sesuai visi misi dan juga sumber daya yang tersedia.

Otonomi

Kurikulum memberi kemerdekaan pada satuan pendidikan dan pendidik untuk merancang proses dan materi pembelajaran yang relevan dan kontekstual.

Sederhana

Perubahan yang terjadi adalah seminimal mungkin dengan beberapa aspek yang berubah secara signifikan dari kurikulum sebelumnya. Tapi, tujuan, arah perubahan, dan rancangannya jelas dan mudah dipahami sekolah dan pemangku kepentingan.

Gotong Royong

Pengembangan kurikulum dan bahan ajar adalah hasil kolaborasi puluhan institusi, di antaranya Kementerian Agama, universitas, sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.

Struktur Per Jenjang

Pembelajaran diatur berdasarkan jenjang, seperti yang sudah diterapkan pada Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan.

Pengajaran Sesuai dengan Tingkat Kemampuan

Pengajaran sesuai dengan tingkat kemampuan adalah pendekatan belajar yang berpusat pada peserta didik berdasarkan tingkat kemampuan mereka, bukan pada pada tingkatan kelas.


Apa tujuan pengajaran ini?

Sebagai bentuk implementasi filosofi ajar Ki Hajar Dewantara yang berpusat pada peserta didik

Peserta didik lebih kuat kemampuan numerasi dan literasinya

Pengetahuan pada tiap mata pelajaran peserta didik juga lebih kuat

Bagaimana pengelompokan peserta didik?

Peserta didik dikelompokkan berdasarkan fase perkembangan.


Apa itu fase perkembangan?

Fase atau tingkatan perkembangan adalah capaian pembelajaran yang harus dicapai peserta didik. Setiap proses pembelajaran tersebut disesuaikan dengan karakteristik, potensi, serta kebutuhan peserta didiknya.


Sekolah Reguler

Fase A: SD Kelas 1-2

Fase B: SD Kelas 3-4

Fase C: SD Kelas 5-6

Fase D: SMP Kelas 7-9

Fase E: SMA Kelas 10

Fase F: SMA Kelas 11-12

Sekolah Luar Biasa

Untuk SLB, capaian pembelajaran memakai acuan usia mental yang ditetapkan melalui asesmen.


Fase A: usia mental = 7 tahun

Fase B: usia mental +/- 8 tahun

Fase C: usia mental +/- 8 tahun

Fase D: usia mental +/- 9 tahun

Fase E: usia mental +/- 10 tahun

Fase F: usia mental +/- 10 tahun

Sinkronisasi Jenjang, Usia Mental, & Usia Kronologis

Fase A

Jenjang / Kelas: SD (1-2)

Usia Kronologis: kurang dari 6-8 tahun

Usia Mental: kurang dari 7 tahun

Fase B

Jenjang / Kelas: SD (3-4)

Usia Kronologis: 9-10 tahun

Usia Mental: +- 8 tahun

Fase C

Jenjang / Kelas: SD (5-6)

Usia Kronologis: 11-12 tahun

Usia Mental: +- 8 tahun

Fase D

Jenjang / Kelas: SMP (7-9)

Usia Kronologis: 13-15 tahun

Usia Mental: +- 9 tahun

Fase E

Jenjang / Kelas: SMA (10)

Usia Kronologis: 16-17 tahun

Usia Mental: +- 10 tahun

Fase F

Jenjang / Kelas: SMA (11-12)

Usia Kronologis: 17-23 tahun

Usia Mental: +- 10 tahun

Bagaimana menentukan kemajuan hasil belajar di metode ini?

Kemajuan hasil belajar peserta didik Anda dilakukan melalui evaluasi pembelajaran atau asesmen. Peserta didik yang belum mencapai capaian pembelajaran akan mendapatkan pendampingan dari Anda agar tercapai capaian pembelajarannya.


Bagaimana tahapan metode pengajaran ini?

Asesmen Diagnostik

Peserta didik Anda akan melakukan asesmen awal untuk mengenali potensi, karakteristik, kebutuhan, tahap perkembangan, tahap pencapaian pembelajaran, dan hal mendasar lainnya.

Perencanaan

Pada tahap ini, Anda akan menyusun proses pembelajaran sesuai dengan hasil asesmen diagnostik.

Selain itu, Anda akan melakukan pengelompokkan peserta didik berdasarkan tingkat kemampuan yang sama.

Pembelajaran

Selama proses pembelajaran, Anda akan mengadakan asesmen formatif secara berkala.

Sebagai proses evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran, di akhir proses pembelajaran, Anda akan melakukan asesmen sumatif. Asesmen ini juga akan memudahkan Anda untuk merancang projek berikutnya bagi peserta didik.

Rabu, 04 Mei 2022

Tahapan Implementasi Kurikulum Merdeka

Tahapan Implementasi IKM

Kurikulum merdeka tidak dilaksanakan secara serentak dan massif, hal ini sesuai kebijakan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikburistek) yang memberikan keleluasaan satuan pendidikan dalam mengimplementasikan kurikulum. Beberapa program yang mendukung implementasi kurikulum merdeka (IKM) adalah adanya program Sekolah Penggerak (SP) dan Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggula (SMK-PK) dimana Kemendikburistek pada program tersebut adalah memberikan dukungan dalam impelentasi kurikulum merdeka (KM) dari dua kegiatan tersebut didapatkan pengalaman yang baik dalam mengimplementasikan KM sehingga menjadi praktik baik dan konten pembelajaran dari implementasi KM pada SP/SMK-PK terdidentifikasi dengan baik dan dapat menjadi pembelajaran abgi satuan Pendidikan lainnya.

Penyediaan dukungan implementasi KM yang diberikan oleh Kemendikburistek adalah bagaimana kemendikbudritek memberikan dukungan pembelajaran Implementasi KM secara mandiri dan dukungan pendataan Implementasi KM jalur mandiri, dari dukungan tersesbut akan mendapatkan calon satuan Pendidikan yang terdata berminat dan akan memperoleh pendampingan pembelajaran untuk implementasi KM Jalur Mandiri, sehingga Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas serta aktor lain dapat mengadakan kegiatan berbagi praktik baik implementasi KM dalam bentuk seminar maupun lokakarya secara mandiri.

Hasil pendataan yang dilakukan oleh Kemendikburistek memperoleh data kesiapan satuan Pendidikan dalam mengimpelentasikan KM jalur mandiri, satuan Pendidikan akan memperoleh dukungan yang baik dari kemendikbudristek dalam menjalankan implementasi KM Jalur Mandiri. Praktik-praktik baik dan konten pembelajaran dari implementasi KM Jalur mandirii teridentifikasi dengan jelas sehiangga menjadi fokus pada pendampingan oleh kememdikbudristek. Satuan Pendidikan yang mengimpelentasikan KM jalur mandiri akan memperoleh pengalaman dalam implementasi KM Jalur Mandiri.

SP/SMK-PK yang telah mengimplementasikan KM dapat saling memberikan praktik baik dan pembelajaran, saling berbagi praktik baik sehingga terbentuk jejaring dukungan antar guru dan tenaga kependidikan untuk berbagi konten pembelajaran dan praktik baik implementasi KM secara luas, komunitas yang berkembang mendukung Ekosistem Siap Menerapkan Kurikulum Merdeka Secara Nasional pada 2024 yang secara massif.

Berikut ada tiga pilihan implementasi kurikulum merdeka jalur mandiri yang bisa diaplikasikan oleh satuan pendidikan, yakni mandiri belajar, mandiri berubah, dan mandiri berbagai.


1. Mandiri Belajar

Satuan pendidikan diberikan kebebasan saat menerapkan kurikulum merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan pada satuan pendidikan PAUD kelas 1, 4, 7, dan 10.

2. Mandiri Berubah

Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menerapkan kurikulum merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini kelas 1,4,7 dan 10.

3. Mandiri berbagai

Satuan pendidikan diberikan kesempatan untuk mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Kurikulum Merdeka sebagai opsi bagi semua satuan Pendidikan yang didalam proses pendataan merupakan satuan Pendidikan yang siap melaksanakan kurikulum merdeka.

Buat satuan pendidikan kalau belum yakin menggunakan kurikulum merdeka, masih bisa menggunakan kurikulum 2013, jika satuan pendidikan ingin mengimplementasikan kurikulum merdeka harus dipahami dahulu tiga opsi tadi.

Perencanaan Pembelajaran SD/Paket A

Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan  Salam bahagia...Bapak / Ibu guru hebat kali ini kita akan mempelajari tentang perencanaan pembelaja...